Aku punya pengalaman. baik dan cukup menarik bagi aku pribadi. jadi, jaman aku kuliah, aku sangat aktif di kampus. organisasi, kepanitiaan, kepenulisan, semua aku jalani dengan bahagia. aku cuma mau satu hal pada saat itu. soft skills. dan itu buat aku cukup ambis dalam menggali potensiku pada saat itu. aku bertemu dengan teman baru, yang juga punya visi dan misi yang sama kaya aku. mereka semua belajar, mengejar target, ambis, dan satu hal yang menurut aku lumayan khas banget anak organisasi. yaitu, daya juangnya tinggi. aku merasa hal itu adalah kesamaan yang sedikit bisa di pukul rata dari anak organisasi. selain itu, aku juga merasa bahwa anak organisasi itu sedikit terkesan “sombong” bukan karena benar-benar sombong, tapi karena mereka telah melewati banyak hal yang sulit, banyak malam yang akhirnya dipaksa untuk bisa melebur antara tugas kepanitiaan, tugas perkuliahan, dan pikiran serta perasaan diri yang kadang belum tentu stabil setiap harinya. melewati malam yang panjang, dengan semua beban itu, menjadikan anak organisasi biasanya lebih sering terkesan berbangga diri atau bahkan sombong. tapi tidak demikian maksudnya. kemudian, aku pernah ceritain itu ke temanku yang ngga pernah ada di posisiku. dia tidak seaktif aku dalam menjalankan hidup di perkuliahan. oh ya satu lagi, menurut aku, anak organisasi itu punya social skills yang bisa di adu. dan itu membuat aku sedikit pede saat itu. oke, kembali ke temanku, aku merasa dia bukan tipe organisatoris gitu, biasa aja bahkan. lalu kemudian, pas aku ceritain pengalamanku di organisasi, dengan di bumbui rasa bangga kepada diri sendiri. aku melihat ekspersinya kaya datar gitu, dan bahkan cenderung “batin”. jujur, setelah ngobrol sama dia aku kepikiran banget, aku ngerasa “apa aku salah ngomong ya?” “apa aku terelalu berlebihan ya?” dan itu buat aku mikir berhari-hari. lalu kemudian, aku sedikit berdialog dengan diriku sendiri, apa yang kemungkinan dia rasain waktu itu. dan aku sedikit menyimpulkan, “orang yang tidak ada di posisimu, tidak akan pernah merasakan juga apa yang kamu rasakan saat itu.” “kamu boleh cerita tentang seberapa bahagianya kamu. tapi kalau kamu ceritakan itu ke orang yang lagi bangkrut, atau lagi kehilangan orang tersayangnya, ya jatuhnya kamu sombong” jadi sebenernya, bukan kita yang sepenuhnya salah karena sudah cerita. tapi kita salah dalam memilih, kepada siapa kita bercerita.