Berikut adalah rangkuman final desain operasional Eco-Duck Farming Terpadu (480 Ekor) di Riau dengan sistem Zero Waste dan integrasi Ikan Predator:

1. Manajemen Kandang (Sistem Batch Mingguan)

* Input Bibit: 80 ekor DOD/minggu (12 ekor harian + cadangan).

* Target Panen: 10 ekor setiap hari dari sekat terakhir (usia 40-42 hari).

* Penyekatan: 6 Sekat (usia 1-6 minggu) dengan tinggi kandang 130 cm.

* Luas Sekat: Bertingkat dari 4 m² (starter) hingga 20 m² (siap panen). Total luas kandang ±100 m².

2. Strategi Pakan Alternatif (High Protein, Low Cost)

* Starter (0-14 Hari): 70% Pur 511 + 20% Wolffia + 10% Waluh kukus.

* Pembesaran (15-42 Hari): Dedak Halus (energi) + Wolffia (protein nabati) + Keong Mas rebus/cacah (protein hewani) + Waluh (vitamin).

* Hasil: Mengurangi ketergantungan pakan pabrikan hingga 60%.

3. Ekosistem Kolam Zero Waste (Total ±175 m²)

Air limbah mengalir gravitasi melalui 4 tahap tanpa pakan ikan tambahan:

1. Kolam Endapan (25 m²): Ikan Puyu & Sepat (berbiak alami untuk pakan Gabus).

2. Kolam Wolffia (90 m²): Menyerap limbah menjadi pakan utama bebek.

3. Kolam Nila (35 m²): Kapasitas 350–420 ekor (makan sisa organik & Wolffia hanyut).

4. Kolam Filter Akhir (25 m²): Eceng Gondok & Ikan Gabus. Kapasitas 125–175 ekor (makan sepat).

4. Analisis Ekonomi Harian (Estimasi Riau)

* Biaya (BOH): ± Rp424.400 (DOD, Pur, Dedak, Listrik).

* Pendapatan: ± Rp638.300 (Jual Bebek @Rp60rb + estimasi harian Nila & Gabus).

* Laba Bersih: ± Rp213.900/hari atau ± Rp6.417.000/bulan.

5. Keunggulan Teknis

* Adaptasi Riau: Tinggi 130 cm mencegah heat stress; panggung mencegah lembap tanah gambut.

* Mandiri: Bibit Gabus & Sepat dari alam; pakan ikan Rp0.

* Sirkulasi: Limbah padat menjadi pupuk untuk kebun Waluh.